1.Batuan Beku_(1)

18 pages
21 views
of 18
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Modul Pengenalan Batuan Beku.
Transcript
    Modul Pengenalan Batuan 1 BATUAN BEKU A.   PENGERTIAN Batuan beku ( igneous rock  ) berasal dari kata ”ignis” yang dalam bahasa L atin berarti api dan rock yang berarti batuan, jadi batuan beku adalah batuan yang berasal dari api. Secara harfiah adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi magma baik di bawah permukaan (batuan  beku intrusif) maupun diatas permukaan (batuan beku ekstrusif). B. PROSES PEMBENTUKAN Batuan beku terbentuk dari hasil proses kristalisasi magma. Magma sendiri adalah suatu lelehan material batuan yang bersifat mobile (dapat bergerak), terbentuk secara alamiah,  bertemperatur tinggi antara 700 0 C  –   1200 0 C di dekat permukaan. (Best, 1982). Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile  (air, CO 2 , chlorine ,  fluorine , besi, sulfur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile  yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku. Magma terbentuk dari pelelehan batuan yang dikontrol oleh tiga parameter dasar yaitu tekanan (P), temperatur (T), dan komposisi kimia (X), yaitu : 1.   Kenaikan temperatur T pada kondisi P dan X yang konstan (  Increasing Temperature ). 2.   Penurunan tekanan P pada T dan X yang konstan (  Decompression ). 3.   Perubahan X pada P dan T yang konstan (terutama penambahan fluida khususnya H 2 O dan CO 2 ). Magma dapat terbentuk di berbagai tempat, berikut ini adalah lokasi-lokasi dimana dapat terbentuknya magma menurut Best (1982) dan Wilson (1989) : 1.   Zona Subduksi ( Subduction Zone ) a.   Peleburan mantel atas/baji mantel ( mantle wedge ), mantel tersomatisasi.  b.   Pelelehan parsial kerak samudera c.   Pelelehan kerak benua bagian bawah (anateksis) 2.   Zona Tumbukan ( Collision Zone ) a.   Pelelehan parsial kerak benua bagian bawah (anateksis)  b.   Pelelehan parsial kerak benua bagian tengah (anateksis) 3.   Rekahan tengah samudera ( mid oceanic rift  )    Modul Pengenalan Batuan 2 4.   Rekahan tengah benua ( intra continental rift  ) 5.   Kepulauan tengah samudera ( mid oceanic island  ) Gambar 1. Lokasi  –   lokasi Terbentuknya Magma (Schminke, 2004) Semua fenomena yang melibatkan batuan dalam fase leleh disebut igneous processes.  Igneous processes umumnya dibagi dalam 4 proses utama, yaitu : 1) pembentukan magma dari  batuan asal, 2) transportasi magma, 3) diferensiasi magma, 4) pembekuan magma menjadi  batuan beku. Magma yang berpindah naik mendekati permukaan bumi biasanya mengalami berbagai ubahan kimia dan mineralogi melalui proses diferensiasi, yang menghasilkan bermacam-macam  batuan beku dengan komposisi kimia yang berbeda-beda. Diferensiasi sendiri adalah proses- proses yang menghasilkan magma turunan ( derivative magmas ) yang berbeda komposisi kimia dan mineralogi dari magma induk (  primitive parental magma ). Proses diferensiasi antara lain terdiri dari proses kristalisasi fraksional (  fractional crystallization ), magma mixing, serta asimilasi. (Best, 2005) Ketiga proses diferensiasi tersebut diilustrasikan dalam gambar 2. Kristalisasi fraksional merupakan proses pemisahan kristal-kristal dari lelehan magma pada proses kristalisasi. Urutan kristalisasi mineral mengikuti kaidah deret Bowen yang menyatakan mineral akan terbentuk secara berurutan pada urutan tertentu seturut penurunan suhu magma. Proses kristalisasi fraksional akan menghasilkan magma yang bersifat lebih asam dari magma sebelumnya.  Magma mixing   adalah proses dimana dua atau lebih magma dengan komposisi berbeda bertemu dan saling menghomogenkan sehingga didapati magma baru dengan komposisi diantara dua jenis    Modul Pengenalan Batuan 3 magma yang bercampur. Proses pencampuran magma biasanya terjadi di dapur magma dimana suatu dapur magma terhubungkan dengan dapur magma lainnya sehingga terjadi pencampuran. Asimilasi adalah perubahan komposisi magma, sebagai akibat dari adanya reaksi antara magma dengan batuan dinding yang berkomposisi berbeda. Gambar 2. Contoh proses diferensiasi magma (Schminke, 2004) Pembentukan batuan beku juga dapat terjadi diatas permukaan bumi sebagai hasil dari erupsi gunung berapi baik secara eksplosif maupun efusif, batuan beku jenis ini disebut juga  batuan beku fragmental atau vulkaniklastik yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Proses terbentuknya batuan beku fragmental ini bisa terjadi akibat dari pembekuan magma yang keluar ke permukaan secara cepat ketika erupsi gunung berapi, atau lava yang membeku ketika  bersentuhan dengan udara luar atau air. Gambar 5 menunjukkan skema sistem magma yang  berhubungan dengan gunung api sehingga dapat menghasilkan batuan beku vulkaniklastik. Gambar 3. Skema sistem magma dan volkano (Schmincke, 2004)    Modul Pengenalan Batuan 4 C. MINERAL-MINERAL PENYUSUN BATUAN BEKU Mineral primer penyusun batuan beku merupakan mineral-mineral yang terbentuk langsung dari pembekuan magma. Pembekuan mineral-mineral tersebut dari magma mengikuti suatu deret reaksi yang dikenal dengan Deret Reaksi Bowen (  Bowen’s Reaction Series ). Deret reaksi tersebut menggambarkan urut-urutan pembentukan mineral yang dibagi menjadi Deret Continuous dan Deret  Discontinuous. Deret Continuous terdiri dari kelompok Feldspar Plagioklas (Anortit  –   Albit), yang mengalami perubahan komposisi seiring dengan penurunan temperatur magma, sementara Deret  Discontinous menggambarkan pembentukan mineral-mineral batuan beku pada kondisi temperatur tertentu dan tidak menerus. Gambar 4. Diagram Reaksi Bowen (Pearson Prentice Hall, 2005) Mineral primer dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kelimpahannya dalam batuan beku, yaitu : a.   Mineral utama ( essential mineral  ), mineral yang jumlahnya cukup banyak (melimpah-sangat melimpah), dan menjadi penyusun utama dalam batuan beku sehingga menjadi dasar dalam penamaan batuan tersebut. Contoh : mineral orthoklas, plagioklas dan kuarsa dalam granit. Mineral olivin pada dunit.  b.   Mineral tambahan ( accessory mineral  ) yaitu mineral-mineral yang jumlahnya sedikit (cukup melimpah  –   minor) dan tidak menjadi dasar penamaan batuan, namun apabila  jumlahnya > 10% akan ikut memberi nama pada batuan. Contoh : biotit dalam granit  biotit. Contoh mineral aksesoris minor dalam batuan beku antara lain topaz, zirkon, korundum, fluorit, garnet, magnetit, ilmenit, turmalin, dll.
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks